Selasa, 16 November 2010

Sebuah Renungan Bagi Aktivis Dakwah Kampus

Awal malapetaka dakwah (kampus): ketika para pengampu-nya mulai merasa tinggi, berbeda, berkuasa, mulai mengendalikan dan memaksa; ketika para da'inya mulai kehilangan keikhlasan, kebijakan, kata-kata mulia, dan akhlaqul karimah; ketika indikator keberhasilannya sangat pragmatis, yaitu menjadi penguasa-penguasa semu ya...ng tidak mampu bertahta di hati sanubari masyarakat kampus.
Wahai para aktivis dakwah (kampus), bagaimana antum akan MENGGERAKKAN HATI jika gagal MENGAMBIL HATI karena ucapan dan perbuatan yang MENYAKITI HATI ??
Tarbiyah yang sehat dan matang dari para aktivis dakwah kampus mestinya berbuah keikhlasan, kebijakan, kesabaran dan akhlaqul karimah. Jadi, ketika berbagai kemuliaan itu hilang dari perilaku para aktivis dakwah, mari evaluasi kembali bagaimana jalannya proses tarbiyah itu.
Indikator tarbiyah yang sehat dan matang antara lain:
1. Kehadiran yang kontinyu dan sepenuh hati dari seluruh anggota.
2. Materi yang berkesinambungan, tidak terputus, apalagi melompat.
3. Suasana dialogis; Murobbi bukanlah pemegang otoritas kebenaran, karena dia tidak maksum.
4. Ketaatan dalam kepahaman dan kekritisan. ...
5. Semangat untuk bergerak dengan produktif dan kontributif.
Wahai murobbi, ikhlaslah. Jangan berkata-kata kecuali engkau yakin itu bersumber dari Islam yang mulia. Jangan banyak mendoktrin karena mutarobbi-mu punya akal sehat yang butuh difahamkan. Jangan pula memaksa, karena engkau bukanlah Nabi yang maksum. Belajarlah dari mutarobbi-mu, karena mereka punya banyak kelebihan di...bandingkan dirimu. Ingat, hanya yang keluar dari hati yang akan menyentuh hati.
(Kumpulan status Facebook Pak Arief Munandar seorang "Leadership Inspirer")

Teguh Menyuarakan Kebenaran

DAKWAH Islam yang dilakukan Rasulullah Saw kian berkembang. Namun di pihak lain, kaum kafir kian meningkatkan tekanannya terhadap Rasul dan mereka yang memeluk Islam.
Merasa tidak aman di Kota Mekah, Rasulullah mencoba datang ke Kota Thaif, sebuah kota yang bertetangga dengan Mekah, guna mencari bantuan dan perlindungan. Rasul menyeru masyarakat Thaif untuk masuk Islam, masuk ke dalam barisan kaum Muslimin.
 Allah Swt berkehendak lain. Dia menguji kesabaran dan ketegaran Rasulullah dalam mengemban amanah risalah Islam. Alih-alih menyambut seruan kebenaran dari Rasul, masyarakat Thaif justru mencaci-maki, mengusir, bahkan melempari Rasul dengan batu. Anak-anak kecil yang sebenarnya tidak mengerti apa-apa pun ikut mengolok-olok beliau.
 Rasul berhasil menyelamatkan diri, meski laki-laki agung ini terluka. Keringat bercucuran, napas tersengal-sengal, pakaian kotor, serta kaki pun berdarah. Beliau sampai di sebuah kebun anggur, milik dua orang lelaki musyrik, 'Utbah dan Syaibah bin Rabi'ah.
 Rasulullah memasuki kebun itu untuk beristirahat dan berlindung dari kejaran orang-orang Thaif. Air mata Rasulullah menetes. Kesedihan mendalam menghinggapi perasannya.
 "Ya Allah, hanya kepada-Mu aku mengadukan lemahnya kekuatanku, dan sedikitnya upayaku, serta tidak berdayanya aku menghadapi manusia,” Rasul mulai berdoa, mengadukan keadaannya kepada Allah Swt.
“Wahai Dzat Yang Maha Pengasih di antara hamba-hamba yang pengasih, Engkau adalah Rabbnya orang-orang yang lemah dan juga Rabbku. Kepada (siapa aku mengadu), apakah kepada Dzat yang membebaniku, atau kepada sesuatu yang jauh dan menerimaku dengan muka masam, ataukah kepada musuh? Sementara Engkau menguasakan perkaraku? Jika saja kemurkaan-Mu tidak menimpaku, tentu aku tidak peduli. Akan tetapi, ampunan-Mu lebih luas untukku daripada kemurkaan-Mu yang akan Engkau timpakan kepadaku, atau Engkau tempatkan aku dalam kemurkaan-Mu. Aku berlindung dengan cahaya wajah-Mu, yang engkau hapus segala kegelapan dengan terbitnya (cahaya-Mu), dan Engkau selaraskan urusan dunia dan akhirat dengan baik di atasnya. Hanya untuk-Mu segala kerelaan hinga Engkau ridla. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali bersama-Mu."
 Pemilik kebun anggur, 'Utbah dan Syaibah, mendengar ada suara di kebunnya. Keduanya terpesona dengan ucapan doa yang belum pernah didengarnya. Mereka pun mendekat dan bertanya kepada Rasulullah serta meminta penjelasan mengenai hakikat ucapan doa yang beliau panjatkan. Singkat cerita, hasil dialog itu menjadikan dua lelaki musyrik pemilik kebun anggur itu menjadi Muslim.

MERUPAKAN sunnatullah, memperjuangkan kebenaran atau dakwah Islamiyah akan menghadapi berbagai fitnah (ujian). Setidaknya, seorang pejuang penegak Islam akan menghadapi perlawanan dari musuh-musuh Allah atau pihak yang tidak suka dengan tegaknya syi’ar Islam, sebagaimana dialami Rasulullah Saw. Apa yang dialami beliau di Thaif, hanyalah satu dari sekian ujian yang menimpanya dalam menyuarakan kebenaran.
 Bentuk-bentuk ujian bagi pejuang Islam yang menyuarakan kebenaran, sebagaimana dialami Rasulullah dan generasi Islam terdahulu, antara lain:
 Pertama, olok-olok atau cemoohan dari musuh-musuh Allah. “Dan apabila mereka melihatmu (Muhammad), mereka hanyalah menjadikanmu
sebagai ejekan (dengan mengatakan): ‘Inikah orang yang diutus Allah sebagai
Rasul?’”
(QS. Al-Furqon [25]:41).
 Saat ini tidak sedikit orang yang memandang sinis terhadap aktivis dakwah yang berjuang menegakkan Islam --semoga Allah memahamkan dan mengampuni mereka.
 Kedua, tudingan, tuduhan, atau julukan yang mencermarkan nama baik.
“Dan mereka heran karena mereka kedatangan seorang pemberi peringatan dari kalangan mereka, dan orang-orang kafir berkata: ‘Ini adalah seorang ahli sihir yang banyak berdusta’” (QS. Shad [38]:4).
 Rasulullah dicap sebagai “tukang sihir” atau “gila”. Sekarang banyak mujahid dakwah Islam dicap fundamentalis, ekstremis, radikal, “garis geras”, bahkan “teroris”. Itulah yang dalam dunia komunikasi disebut “penjulukan” (labelling), stigmatisasi, atau pembunuhan karakter (character assasinations) agar mereka dimusuhi publik. Penjulukan itu dimaksudkan untuk memadamkan cahaya Islam, membuat umatnya rendah diri dan dimusuhi warga dunia.
 Ketiga, ancaman, penganiayaan, penjara, bahkan pembunuhan. Nabi Nuh a.s. mendapatkan ancaman rajam dari kaum kafir (QS Asy-Syu’ara:116). Nabi Musa diancam penjara dan hendak dibunuh oleh Fir’aun (QS. Asy-Syu’ara:29, Al-Mu’min:26). Nabi Muhammad Saw harus menghadapi kaum kafir yang hendak menangkap, memenjarakan, mengusir, bahkan membunuh beliau.
 “Dan (ingatlah) ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmun untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu. Mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya” (QS. Al-Anfal [8]:30).
 MUJAHID dakwah Islam harus siap menghadapi semua risiko itu: dicemooh, difitnah, diancam, dan sebagainya. Namun, tentu saja semua risiko itu kecil dalam pandangan muhajid fillah. Pasalnya, semua itu adalah risiko
perjuangan yang sudah siap dihadapi.
 Yang paling berat justru ujian berupa bujukan, suap, atau kekuasaan.
Rasulullah mengalami ujian itu, saat kaum kafir menawarkan sebuah kerajaan
asalkan beliau berhentik berdakwah. Tidak sedikit pejuang Islam yangsayyid
terpeleset dengan ujian semacam itu. Ia silau dengan kemewahan duniawi yang
disuapkan kepadanya.
 Banyak di antara kita yang mundur ketika diajak berjuang di jalan Allah, apalagi jika harus kehilangan jabatan atau kesenangan duniawi lainnya.
 "Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepada kamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang beriman bersamanya : "Bilakah datangnya pertolongan Allah?" Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat." (QS. Al Baqarah : 214)

Sayyid Quthub berkata: ”Wahai saudara-saudaraku. Jalan dakwah itu dikelilingi oleh makaruh (hal-hal yang tidak disukai), penuh dengan bahaya, dipenjara, dibunuh, diusir, dan dibuang. Barangsiapa ingin memegang suatu prinsip atau menyampaikan dakwah, maka hendaklah itu semua sudah ada dalam perhitungannya. Dan barangsiapa menginginkan dakwah tersebut hanyalah merupakan tamasya yang menyenangkan, kata-kata yang baik, pesta yang besar dan khutbah yang terang dalam kalimat-kalimatnya, maka hendaklah dia menelaah kembali dokumen kehidupan para rasul dan para da`i yang menjadi pengikut mereka, sejak dien ini datang pertama kalinya sampai sekarang ini”. Wallahu a’lam.*
(Abu Faiz www.warnaislam.com)

Minggu, 14 November 2010

Ringkasan Buku Komitmen Muslim Sejati (Ust. Fathi Yakan) Bagian Pertama

komitmen muslim sejati
BAB PERTAMA     

APA ARTINYA SAYA MENGAKU MUSLIM?
Bagian pertama buku ini memaparkan karakteristik terpenting yang harus ada pada diri seseorang agar ia menjadi muslim sejati. Berikut akan di bahas secara ringkas karakteristik paling menonjol yang harus ada pada diri seorang muslim agar pengakuannya sebagai penganut agama ini merupakan pengakuan yang benar dan jujur.
 Dalil: Qs. Al-Hajj:78
Karakteristik yang harus dimiliki agar menjadi seorang muslim sejati adalah sebagai berikut:

Pertama :
SAYA HARUS MENGISLAMKAN AKIDAH SAYA
       Syarat pertama pengakuan sebagai muslim dan sebagai pemeluk agama ini adalah hendaklah akidah seorang muslim adalah akidah yang benar dan sahih, selaras dengan apa yang terdapat dalam Al-Quran dan sunah Rasulullah Saw.
Konsekuensi dari mengislamkan akidah saya:
1.         Saya harus meyakini bahwa pencipta alam ini adalah Allah Yang Hakim (Mahabijaksana), Qadir (Mahakuasa), ‘Alim (Mahatahu), Qayum (Selalu Mengurus Makhluknya), dan Al-‘Aliy (Yang Maha Tinggi).
Dalil: Qs. Al-Anbiya:22
2.        Saya harus mengimani bahwa Al-Khaliq (Sang Maha Pencipta) tidak menciptakan alam semesta ini secara sia-sia, karena tidak mungkin terjadi Dzat yang memiliki sifat kesempurnaan itu berbuat sia – sia dalam apa yang diciptakan-Nya.
Dalil : Qs. Al-Mukminun:115-116
3.        Saya harus meyakini bahwa Allah Swt. telah mengutus para rasul dan menurunkan kitab – kitab untuk mengenalkan pengetahuan tentang Allah, tujuan penciptaan manusia, awal kejadian manusia, dan tempat kembali manusia. Rasul yang terakhir adalah Muhammad Saw. yang telah dikuatkan Allah Swt. dengan Alquranul Karim yang merupakan “mukjizat abadi”.
Dalil : Qs. An-Nahl : 36
4.       Saya harus meyakini bahwa tujuan Allah Swt., menaati-Nya, dan beribadah kepada-Nya.
Dalil : Qs. Adz-Dzariyat : 56-58
5.        Saya harus meyakini bahwa balasan bagi orang mukmin yang taat adalah surga, sedangkan balasan bagi orang kafir yang bermaksiat adalah neraka.
Dalil : Qs. Asy-Syura: 7
6.       Saya harus meyakini bahwa manusia harus meyakini bahwa manusia melaksanakan kebajikan dan kejahatan dengan ikhtiar dan kehendaknya, akan tetapi ia tidak bisa melaksakanan kebaikan kecuali dengan taufik dan pertolongan Allah. Ia tidak melaksanakan kejahatan semata –mata karena paksaan dari Allah, akan tetapi dalam kerangka izin dan kehendak-Nya.
Dalil : Qs. Asy-Syams : 7-10
7.        Saya Harus meyakini bahwa menetapkan syariat merupakan hak Allah yang tidak boleh dilanggar.
Dalil : Qs. Asy-Syura : 10
8.        Saya harus mengetahui nama – nama dan sifat – sifat Allah yang selaras dengan keagungan-Nya.
Dalil : “Allah memiliki sembilan puluh sembilan nama-seratus kurang satu- tidak seorang pun menghafalnya kecuali ia masuk surga. Dia witir dan mencintai apa yang witir (ganjil).(HR. Bukhari Muslim)
9.       Saya harus bertafakur (merenungkan) mengenai ciptaan Allah, bukan mengenai Dzat-Nya.
Dalil : “Berpikirlah tentang ciptaan Allah, tetapi jangan berpikir tentang Allah, karena kalian tidak mungkin mengenal dengan sebenar – benar pengetahuan mengenai-Nya”(HR. Abu Nu’aim)
10.    Sifat – sifat Allah Swt. telah banyak disyariatkan oleh Alquranul Karim dan merupakan sifat – sifat yang dituntut oleh kesempurnaan Uluhiyah (ketuhanan).
11.       Saya harus meyakini bahwa pendapat para salaf lebih utama untuk diikuti, khususnya dalam persoalan takwil dan ta’thil, serta menyerahkan pengetahuan mengenai makna – makna ini kepada Allah Swt. Tanpa harus menyebabkan dijatuhkannya vonis kafir atau fasik bagi takwil yang dikemukakan oleh orang – orang belakangan (khlaf).
12.     Saya harus beribadah kepada Allah tanpa mempersekutukan-Nya dengan  sesuatu apapun.
Dalil : Qs. An-Nahl : 36
13.     Saya takut kepada-Nya dan tidak takut kepada selain-Nya. Rasa takutku kepada-Nya harus mendorongku untuk menjauhi apa yang dimurkai serta diharamkan-Nya.
Dalil : Qs. An-Nur : 52 dan Qs. Al-Mulk : 12
14.     Saya harus mengingat-Nya dan senantiasa mengingat-Nya. Diamku harus merupakan kegiatan berpikir dan bicaraku merupakan dzikir.
Dalil : Qs. Ar-Ra’d :28 dan Qs. Az-Zukhruf : 36 -37
15.     Saya harus mencintai Allah dengan kecintaan yang menjadikan hatiku senantiasa merindukan keagungan-Nya, tertambat kepada-Nya, sehingga mendorongku untuk senantiasa menambah kebaikan, berkorkan, dan berjihad di jalan-Nya selama – lamanya.
Dalil : Qs. At- Taubah : 24 dan
“Ada tiga hal, siapa yang pada dirinya ada ketiga hal itu maka ia pasti mendapatkan kemanisan iman: Hendaklah Allah dan Rasul-Nya lebih dicintainya daripada orang lain; hendaklah ia mencintai seseorang, ia tidak mencintai-Nya kecuali karena Allah; dan hendaklah ia membenci untuk kembali kembali kepada kekafiran sebagaimana ia tidak suka untuk dilemparkan ke dalam neraka”(HR. Bukhari)
16.     Saya harus bertawakal kepada Allah dalam segala keadaan dan menggantungkan diri kepada-Nya dalam segala urusan.
Dalil : Qs. Ath – Thalaq : 3 dan
“Jagalah Allah, niscaya Ia menjagamu; jagalah Allah, niscaya kamu mendapati-Nya dihadapanmu....”(HR.Tirmidzi)
17.     Saya harus bersyukur kepada Allah Swt. atas segala nikmat-Nya yang tak terhingga serta segala karunia dan rahmat-Nya yang tak terhitung.
Dalil : Qs. An-Nahl : 78, Qs. Yasin  : 33 -35, dan Qs. Ibrahim : 7
18.     Saya harus beristighfar memohon ampunan Allah dan senantiasa beristighfar.
Dalil : Qs. An-Nisa : 110 dan Qs. Ali ‘Imran : 135 -136
19.     Saya harus menyadari muraqabah (pengawasan) Allah Swt. baik dalam keadaan sendiri maupun ditengah - tengah  manusia.
Dalil : Qs. Al – Mujadilah : 7

Kedua :
SAYA HARUS MENGISLAMKAN IBADAH SAYA
       Dalam islam, ibadah adalah puncak ketundukan dan puncaka kesadaran mengenai keagungan ma’bud(Tuhan yang di sembah), tangga yang menghubungkan makhluk dengan Khaliq, Ibadah juga memiliki pengaruh – pengaruh yang mendalam dalam interaksi antar sesama hamba Allah. Logika Islam menetapkan agar kehidupan ini seutuhnya merupakan ibadah dan ketaatan.
Dalil: Qs. Adz- Dzariyat : 56 – 58 dan Qs. Al- An’am :163
Konsekuensi dari mengislamkan ibadah adalah :
1.         Ibadahku harus “hidup” dan “tersambung” kepada Ma’bud ( Tuhan yang diibadahi).Inilah derajat ihsan dalam ibadah.
2.        Ibadahku harus khusyuk, sehingga saya bisa menghayati kehangatan komunikasi dengan Allah dan nikmatnya kekhusyukan.
3.        Dalam beribadah, hati saya harus hadir (sepenuh hati), melepaskan pikiran tentang segala kesibukan dan keinginan duniawi.
4.       Dalam beribadah, saya harus tamak, tidak pernah puas dan rakus, tidak pernah kenyang.
5.        Saya harus memiliki keinginan yang besar untuk melakukan qiyamulail (shalat malam) serta melatih diri untuk melaksanakannya sampai terbiasa.
Dalil : Qs. Al-Muzamil:6, Qs. Adz- Dzariyat : 17-18, dan Qs. As-Sajdah : 16
6.       Hendaklah saya menyediakan waktu untuk membaca dan merenungkan Alquranul Karim khususnya pada waktu fajar.
Dalil : Qs. Al-Isra :78, Qs. Al-Hasyr :21
7.        Doa harus menjadi tangga bagiku untuk memohon kepada Allah dalam setiap keadaan.

Ketiga :
SAYA HARUS MENGISLAMKAN AKHLAK SAYA.
       Berakhlak mulia merupakan tujuan pokok dari risalah Islam. sebagaimana sabda Rasullah Saw. “Sesungguhnya Aku diutus oleh Allah untuk menyempurnakan Akhlak yang mulia.”(HR. Ahmad). Serta ditegaskan oleh Allah dalam Al-Quran (Qs. Al-Haj : 41, Al- Baqarah : 177). Akhlak mulia merupakan bukti dan buah keimanan, keimanan tidak ada nilainya tanpa akhlak.
       Akhlak akan membuat timbangan seorang hamba akan menjadi berat pada hari kiamat. Akhlak mulia adalah buah ibadah dalam islam. Tanpa itu, ibadah tak ubahnya upacara dan gerakan yang tidak memiliki nilai dan faedah sama sekali (Qs. Al-Ankabut : 45, Al- Baqarah : 197).
       Sifat – sifat yang harus dimiliki seseorang agar memiliki akhlak islami adalah sebagai berikut:
1.         Bersikap Wara’ ( hati – hati) terhadap syubhat
2.        Menahan Pandangan (Gadhul Bashar)
3.        Menjaga Lidah (lisan)
4.       Malu (haya)
“Hakikat malu adalah suatu karakter yang menyebabkan seseorang meninggalkan keburukan, mencegahnya dari tindakan melalaikan kewajiban, atau melanggar hak orang lain”.
5.        Pemaaf dan Sabar
Dalil : Qs. Asy- Syuara :43, Al-Hijr :85, Az-Zumar : 10, An-Nur :22, dan Al-Furqan : 63)
6.       Jujur
7.        Rendah hati

8.        Menjauhi Prasangka, Ghibah, dan mencari cela sesama Muslim.
Dalil : Qs. Al- Hujurat : 12, Al-Ahzab: 58)
9.       Dermawan dan Pemurah
Dalil : Qs. Al-Baqarah : 3, Al-Baqarah : 272
10.    Menjadi tauladan yang baik

Keempat :
SAYA HARUS MENGISLAMKAN KELUARGA DAN RUMAH TANGGA SAYA
       Saya harus membawa risalah Islam kepada “masyarakat kecilku” : kepada keluargaku, kepada istriku, kepada anak – anakku, kemuadian kepada kerabat dekat, kemuadian yang terdekat. Itulah jalan yang ditempuh oleh Rasullah Saw. pada saat memulai dakwah. Seperti yang difirmankan oleh Allah Swt dalam Al-Quran Surat Asy-Syu’ara : 213 -215 dan Qs. Al- Tahrim: 6. Karena itu, tugas pertama bagi seorang Muslim setelah dirinya sendiri adalah bertanggung jawab terhadap keluarga, rumah tangga, dan anak-anaknya.
A.      Tanggung Jawab Pernikahan
1.         Pernikahan harus saya laksanakan semata – mata karena Allah, yaitu dalam rangka membentuk rumah tangga muslim.
Dalil : Qs. Ali ‘Imran :34
2.        Hendaklah salah satu tujuan pernikahanku adalah menahan pandangan, memelihara kemaluan, dan bertakwa kepada Allah.
3.        Saya harus memilih istri, pendamping hidup dan teman perjalanan dengan sebaik – baiknya.
4.       Saya harus memilih wanita yang berakhlak dan beragama, sekalipun lebih rendah dibandingkan wanita lain dalam hal harta dan kecantikan.
5.        Saya harus berhati – hati jangan sampai melanggar perintah Allah dalam hal pernikahan.
B.       Tanggung Jawab Pascapernikahan
1.         Saya harus bersikap baik dan menghargainya, agar tumbuh kepercayaan antara saya dan dia.
2.        Jangan sampai hubungan dengan istriku sebatas hubungan ranjang dan nafsu semata. Tetapi yang lebih penting yaitu harus ada hubungan kesesuaian dalam pemikiran, spritual, dan emosi. Dalil : Qs. Thaha : 132 dan Maryam :55
3.        Hubungan dengan istriku harus mengikuti tuntunan syara’. Jadi, tidak dijalin dengan mengorbankan Islam atau dalam hal – hal yang diharamkan Allah.
C.       Tanggung Jawab Bersama dalam Mendidik Anak
Dalil : Qs. Al-Furqan : 74

Kelima :
SAYA HARUS MENGALAHKAN NAFSU SAYA
Dalil : Qs. Asy- Syams : 7-10.
A.      Sifat – Sifat Manusia
Dalam pergulatan melawan nafsu, manusia terbagi menjadi beberapa tipe:
1.         Ada manusia yang dikalahkan oleh nafsu mereka. Cenderung kepada kehidupan dunia, mereka adalah orang – orang kafir dan siapa saja yang mengikuti mereka.
Dalil : Qs. Al- jasiyah : 23
2.        Ada tipe – tipe orang yang bersungguh – sungguh memerangani nafsunya dan melawan keinginannya. Mereka kadang berbuat kesalahan, tetapi kemudian bertobat. Mereka kadang bermaksiyat kepada Allah, namun lantas menyesal dan beristighfar.
Dalil : Qs. Ali ‘Imran : 135
B.       Perangkat – Perangkat untuk Memenangkan Melawan Hawa Nafsu
1.         HATI
Dalil : Qs. Al-Anfal : 2 , Al – Haj : 46 dan Muhammad : 24
2.        AKAL
Dalil : Qs. An-Nur : 40 dan Fathir : 28
C.       Indikasi – Indikasi Kekalahan Akhlak
Ketika hati manusia mati atau mengeras, dan ketika akalnya padam atau menyimpang. Sehingga manausia itu akan dihinggapi penyakit was – was.
Dalil : Qs. Al- mujadilah : 19, Al- A’raf : 16-17
D.      Sarana – Sarana untuk Membentengi Diri dari Masuknya Setan
Sepuluh pintu yang dijadikan setan sebagai sarana untuk mendatangi manusia:
1.         Ambisi dan Buruk Sangka
2.        Kecintaan kepada hidup dan panjang angan – angan
3.        Keinginan untuk santai dan bersenang – senang
4.       Bangga diri
5.        Sikap meremehkan dan kurang menghargai orang lain
6.       Dengki
7.        Riya’ dan keinginan dipuji manusia
8.        Kikir
9.       Sombong
10.    Tamak
Sepuluh sarana menutup pintu masuk untuk setan :
1.         Sikap Percaya dan menerima
2.        Rasa takut terhadap datangnya kematian secara tiba –tiba
3.         Menyadari akan hilangnya nikmat dan keburukan hisab
4.       Mengingat karunia dan takut akan akibat yang akan menimpa
5.        Mengenali hak dan kehormatan orang lain
6.       Sikap menerima dan rela dengan pemberian dari Allah kepada makhluk-makhluknya
7.        Keikhlasan
8.        Sadar akan sirnanya semua yang ada di tangan makhluk dan kekalnya pahala di sisi Allah Swt.
9.       Rendah hati
10.    Percaya dengan apa yang ada di sisi Allah dan Zuhud terhadap apa yang dimiliki manusia.


Keenam :
SAYA HARUS YAKIN BAHWA MASA DEPAN ADALAH MILIK ISLAM
Kepercayaan saya kepada Islam harus mencapai tingkat keyakinan bahwa masa depan adalah milik agama ini. Dalil Qs. Al-Mulk : 14.
Beberapa faktor yang mendorong keyakinan saya :
1.         Rabaniyah Manhaj Islam
2.        Universalitas Manhaj Islam
3.        Elastisitas Manhaj Islam
4.       Kelengkapan Manhaj Islam
5.        Keterbatasan Sistem – Sistem “Wadh’iyah”